Sabtu, 22 Juni 2013

cerpen pegadaian

Pegadaian Sahabat Keluargaku
created by : Raja Octhaviea Sari
Ayah hanyalah seorang karyawan yang penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sedangkan Ibu hanyalah seorang Ibu rumah tangga yang selalu setia mendampingi Ayah dalam suka dan duka.
Beberapa waktu lalu, Ayah berkerja di sebuah Perusahaan Swasta di Kabupaten Karimun. Karena mengalami pengurangan tenaga kerja diperusahaan, Ayah temasuklah ke dalam daftar karyawan yang di PHK(Pemutusan Hubungan Kerja) oleh Perusahaan tersebut. Setelah kejadian itu perekonomian keluargaku mulai mengalami goncangan. Hal ini sangat terasa ketika Kakakku yang tertua mulai kuliah. Disitulah awal bermulanya permasalahan yang dihadapi oleh keluargaku.
Setiap bulan Ayah dan Ibu selalu kebingungan mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari, ditambah dengan biaya kuliah Kakak yang sangat tinggi dan SPP ku yang selalu menunggak. Untuk menutupi kebutuhan tersebut, Ibu selalu meminjam uang kepada sanak saudaranya. Namun Karena terlalu sering meminjam uang yang pembayarannya belum dapat dipenuhi Ibu. Akhirnya mereka tidak mau lagi memberikan pinjaman. Ibu pun kehilangan tempat untuk mengadu dalam mengatasi kesulitan keuangan yang dihadapi oleh keluarga.
Suatu saat, ketika Ayah dan Ibu sudah tidak memiliki jalan keluar dalam mengatasi permasalahan keluarga, terfikirkan oleh Ayah untuk meminjam uang kepada rentenir yang bernama Pak Dayat dan hal itu disampaikan kepada Ibu. Pada awalnya Ibu tidak setuju karena Ibu tahu persis resiko yang akan dihadapi apabila berhubungan dengan seorang rentenir.Namun dengan berbagai alasan dan pertimbangan akhirnya Ibu menyutujui ide Ayah. Dengan uang pinjaman yang dipinjam dari Pak Dayat masalah keluargaku dapat teratasi sedikit. Uang spp Ku yang tertunggak berapa bulan dapat dilunasi. Ayah dan Ibu  juga dapat mengirim uang kuliah Kakak untuk beberapa bulan.
Hal ini tidak berlangsung lama karena pada saat jatuh tempo pembayaran hutang Pak Dayat, Ayah dan Ibu tidak mempunyai uang untuk melunasi hutang-hutang kami. Pada saat yang telah ditentukan Pak Dayat bersama beberapa algojonya datang kerumah mencari Ayah untuk meminta kembali uang yang dipinjam oleh Ayah yang disertai dengan bunganya yang sangat tinggi. Ayah dan Ibu meminta waktu kepada Pak Dayat untuk melunasi hutang-hutang mereka, namun Pak Dayat tidak mau mengerti dan terus memaksa. Pak Dayat pun berencana akan mengambil rumah satu-satunya yang kami miliki. Ayah dan Ibu pun terkejut, Ayah memohon dengan mengiba-iba kepada Pak Dayat agar memberikan waktu lagi kepada Ayah. Jika waktu yang diberikan tersebut Ayah belum juga bisa melunasi hutang-hutangnya maka dengan berat hati Ayah harus merelakan rumah kami untuk disita oleh Pak Dayat. Pak Dayat pun memberi waktu kepada Ayah selama seminggu untuk menepati janji Ayah.
Kini Ayah dan Ibu berusaha sekuat tenaga untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Dengan keadaan Ayah dan Ibu seperti itu, Aku pun berusaha untuk mencari solusi. Akhirnya aku pun teringat kemarin Ibu pernah menjelaskanku tentang pegadaian yang mengatasi masalah tanpa masalah.Lalu. Aku pun mulai berbicara kepada Ibu, Ibu pun teringat juga dengan pegadaian. Aku mengusulkan kepada Ibu untuk meminjam uang kepegadaian saja, Usulanku pun Ibu setujui namun Ayah sepertinya tidak setuju. Ayah mulai berbicara yang sedari tadi diam. Bu, yang namanya kredit itu pasti bunganya akan tinggi juga, sedangkan hutang Pak Dayat belum kita lunasi sekarang kita berpikir untuk meminjam kepegadaian bagaimana kita bisa melunasi uang yang kita pinjam dari pegadaian? ”kata Ayah’’. Aku dan Ibu mencoba meyakinkan Ayah. Yah setidaknya untuk membayar pinjamannya kita bisa menyicil dan pihak pegadaian juga akan memberikan kebijakan kepada kita dengan memperpanjang masa jatuh tempo agar kita bisa melunasinya, lagi pula Ibu masih menyimpan beberapa perhiasan milik Ibu yang barangkali akan membantu masalah kita’’jelas Ibu kepada Ayah’’ Setelah mendengar penjelasan Ibu, Ayah pun setuju dan mempercayai masalah keuangan kami kepada pegadaian.
 Keesokan harinya Ayah dan  Ibu pergi kepegadaian dengan membawa surat tanah dan beberapa perhiasan milik Ibu. Setelah mengajukan beberapa persyaratan seperti fotocopy KTP,surat tanah,dan beberapa perhiasan diserahkan kepada petugas pegadaian. Ayah dan Ibu pun menerima sejumlah uang yang cukup untuk melunasi hutang kami. Setelah pulang dari pegadaian Ayah langsung menemui Pak Dayat untuk melunasi hutang-hutang kami. Kini Ayah tidak ada hubungan hutang lagi dengan Pak Dayat. Ayah pun kembali kerumah dengan perasaan lega. Sesampainya dirumah, Ayah menceritakan rencananya untuk membuka usaha sebuah warung kecil-kecilan didepan rumah dari sisa uang yang masih ada. Ibu pun setuju dengan ide Ayah.

Setiap bulan Ayah dan Ibu menyicil untuk membayar pinjaman di pegadaian. Pada saat orang tuaku tidak mampu menebus barang-barang yang di jaminkan di pegadaian. Pegadaian memberi solusi dengan memberi pembayaran biaya bunga administrasinya saja dengan memperpanjang masa jatuh temponya. Hal ini sangat membantu Ayah dan Ibu. Kini pegadaian menjadi kata yang tidak asing dalam keluargaku. Ia selalu menjadi pilihan bagi orang tuaku. Bagi orangtuaku pegadaian merupakan teman yang dapat membantu mereka menghadapi permasalahan ekonomi yang selalu dihadapi tanpa membebani dengan bunga dan resiko yang tinggi. Keberadaan pegadaian selain memberikan manfaat  yang dirasakan oleh keluargaku juga dapat dirasakan oleh  masyarakat lain yang juga sedang mengatasi masalah ekonomi mereka, disaat beberapa lembaga keuangan lainnya berada dalam situasi yang tidak menguntungkan. Kini pegadaian selalu ada disetiap Kecamatan yang ada di Kabupaten Karimun. Hal ini dilakukan oleh pihak pegadaian untuk mempermudah langkah masyarakat Kabupaten Karimun untuk melangkahkan kaki mereka ke pegadaian untuk mengatasi masalah ekonomi mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar