Pegadaian
Sahabat Keluargaku
created by : Raja Octhaviea Sari
Ayah hanyalah seorang karyawan yang
penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sedangkan Ibu
hanyalah seorang Ibu rumah tangga yang selalu setia mendampingi Ayah dalam suka
dan duka.
Beberapa waktu lalu, Ayah berkerja di
sebuah Perusahaan Swasta di Kabupaten Karimun. Karena mengalami pengurangan
tenaga kerja diperusahaan, Ayah temasuklah ke dalam daftar karyawan yang di
PHK(Pemutusan Hubungan Kerja) oleh Perusahaan tersebut. Setelah kejadian itu
perekonomian keluargaku mulai mengalami goncangan. Hal ini sangat terasa ketika
Kakakku yang tertua mulai kuliah. Disitulah awal bermulanya permasalahan yang
dihadapi oleh keluargaku.
Setiap bulan Ayah dan Ibu selalu
kebingungan mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari,
ditambah dengan biaya kuliah Kakak yang sangat tinggi dan SPP ku yang selalu
menunggak. Untuk menutupi kebutuhan tersebut, Ibu selalu meminjam uang kepada
sanak saudaranya. Namun Karena terlalu sering meminjam uang yang pembayarannya
belum dapat dipenuhi Ibu. Akhirnya mereka tidak mau lagi memberikan pinjaman.
Ibu pun kehilangan tempat untuk mengadu dalam mengatasi kesulitan keuangan yang
dihadapi oleh keluarga.
Suatu saat, ketika Ayah dan Ibu sudah
tidak memiliki jalan keluar dalam mengatasi permasalahan keluarga, terfikirkan
oleh Ayah untuk meminjam uang kepada rentenir yang bernama Pak Dayat dan hal
itu disampaikan kepada Ibu. Pada awalnya Ibu tidak setuju karena Ibu tahu
persis resiko yang akan dihadapi apabila berhubungan dengan seorang
rentenir.Namun dengan berbagai alasan dan pertimbangan akhirnya Ibu menyutujui
ide Ayah. Dengan uang pinjaman yang dipinjam dari Pak Dayat masalah keluargaku
dapat teratasi sedikit. Uang spp Ku yang tertunggak berapa bulan dapat
dilunasi. Ayah dan Ibu juga dapat
mengirim uang kuliah Kakak untuk beberapa bulan.
Hal ini tidak berlangsung lama karena
pada saat jatuh tempo pembayaran hutang Pak Dayat, Ayah dan Ibu tidak mempunyai
uang untuk melunasi hutang-hutang kami. Pada saat yang telah ditentukan Pak Dayat
bersama beberapa algojonya datang kerumah mencari Ayah untuk meminta kembali
uang yang dipinjam oleh Ayah yang disertai dengan bunganya yang sangat tinggi. Ayah
dan Ibu meminta waktu kepada Pak Dayat untuk melunasi hutang-hutang mereka, namun
Pak Dayat tidak mau mengerti dan terus memaksa. Pak Dayat pun berencana akan
mengambil rumah satu-satunya yang kami miliki. Ayah dan Ibu pun terkejut, Ayah
memohon dengan mengiba-iba kepada Pak Dayat agar memberikan waktu lagi kepada
Ayah. Jika waktu yang diberikan tersebut Ayah belum juga bisa melunasi
hutang-hutangnya maka dengan berat hati Ayah harus merelakan rumah kami untuk
disita oleh Pak Dayat. Pak Dayat pun memberi waktu kepada Ayah selama seminggu
untuk menepati janji Ayah.
Kini Ayah dan Ibu berusaha sekuat tenaga
untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Dengan keadaan Ayah
dan Ibu seperti itu, Aku pun berusaha untuk mencari solusi. Akhirnya aku pun
teringat kemarin Ibu pernah menjelaskanku tentang pegadaian yang mengatasi
masalah tanpa masalah.Lalu. Aku pun mulai berbicara kepada Ibu, Ibu pun
teringat juga dengan pegadaian. Aku mengusulkan kepada Ibu untuk meminjam uang
kepegadaian saja, Usulanku pun Ibu setujui namun Ayah sepertinya tidak setuju.
Ayah mulai berbicara yang sedari tadi diam. Bu, yang namanya kredit itu pasti
bunganya akan tinggi juga, sedangkan hutang Pak Dayat belum kita lunasi
sekarang kita berpikir untuk meminjam kepegadaian bagaimana kita bisa melunasi
uang yang kita pinjam dari pegadaian? ”kata Ayah’’. Aku dan Ibu mencoba
meyakinkan Ayah. Yah setidaknya untuk membayar pinjamannya kita bisa menyicil
dan pihak pegadaian juga akan memberikan kebijakan kepada kita dengan
memperpanjang masa jatuh tempo agar kita bisa melunasinya, lagi pula Ibu masih
menyimpan beberapa perhiasan milik Ibu yang barangkali akan membantu masalah
kita’’jelas Ibu kepada Ayah’’ Setelah mendengar penjelasan Ibu, Ayah pun setuju
dan mempercayai masalah keuangan kami kepada pegadaian.
Keesokan harinya Ayah dan Ibu pergi kepegadaian dengan membawa surat
tanah dan beberapa perhiasan milik Ibu. Setelah mengajukan beberapa persyaratan
seperti fotocopy KTP,surat tanah,dan beberapa perhiasan diserahkan kepada
petugas pegadaian. Ayah dan Ibu pun menerima sejumlah uang yang cukup untuk
melunasi hutang kami. Setelah pulang dari pegadaian Ayah langsung menemui Pak
Dayat untuk melunasi hutang-hutang kami. Kini Ayah tidak ada hubungan hutang
lagi dengan Pak Dayat. Ayah pun kembali kerumah dengan perasaan lega.
Sesampainya dirumah, Ayah menceritakan rencananya untuk membuka usaha sebuah
warung kecil-kecilan didepan rumah dari sisa uang yang masih ada. Ibu pun
setuju dengan ide Ayah.
Setiap bulan Ayah dan Ibu menyicil untuk
membayar pinjaman di pegadaian. Pada saat orang tuaku tidak mampu menebus
barang-barang yang di jaminkan di pegadaian. Pegadaian memberi solusi dengan
memberi pembayaran biaya bunga administrasinya saja dengan memperpanjang masa
jatuh temponya. Hal ini sangat membantu Ayah dan Ibu. Kini pegadaian menjadi
kata yang tidak asing dalam keluargaku. Ia selalu menjadi pilihan bagi orang
tuaku. Bagi orangtuaku pegadaian merupakan teman yang dapat membantu mereka
menghadapi permasalahan ekonomi yang selalu dihadapi tanpa membebani dengan
bunga dan resiko yang tinggi. Keberadaan
pegadaian selain memberikan manfaat yang dirasakan oleh keluargaku juga
dapat dirasakan oleh masyarakat lain
yang juga sedang mengatasi masalah ekonomi mereka, disaat beberapa lembaga
keuangan lainnya berada dalam situasi yang tidak menguntungkan. Kini
pegadaian selalu ada disetiap Kecamatan yang ada di Kabupaten Karimun. Hal ini
dilakukan oleh pihak pegadaian untuk mempermudah langkah masyarakat Kabupaten
Karimun untuk melangkahkan kaki mereka ke pegadaian untuk mengatasi masalah
ekonomi mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar